Halo !!! Nama Saya Wahid Priyono, S.Pd, ini adalah blog pribadi saya tentang pendidikan dan pengajaran di sekolah

Contoh Latarbelakang Materi Toksisitas Sabun dan Deterjen

Matoa (2008) berpendapat bahwa sabun yang ditemukan pertama kali oleh bangsa Arab pada abad ke-19, pada dasarnya terbuat dari proses pencampuran (safonifikasi) soda kaustik dengan minyak nabati (minyak tumbuh-tumbuhan) atau minyak hewani (minyak yang berasal dari lemak hewan). Mengingat sifat sabun yang berasal dari bahan alami, masyarakat pengguna yang mengkonsumsi sabun pun nyaris tak mengalami gangguan seperti alergi atau kerusakan pada kulitnya. Sabun sebagai bahan pembersih yang berbentuk cair maupun padat, bisa digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, atau membersihkan peralatan rumah tangga.


Namun, pada perkembangannya, sabun dan deterjen dibuat dengan berbagai percampuran zat sehingga mampu menimbulkan efek toksik bagi tubuh. Hal ini juga didukung dengan banyaknya zat additives yang memiliki efek pemicu iritasi, hingga menimbulkan kerusakan atau kematian jaringan. Efek toksik tidak hanya timbul bila senyawa tersebut tertelan, namun adanya kontak antara tubuh dengan senyawa tersebut uga mampu memicu terjadinya berbagai iritasi dan reaksi lainnya. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai efek toksik sabun dan deterjen sangatlah penting untuk dipelajari guna memperluas wawasan keilmuan serta memahami kerja zat toksik dalam tubuh.

You Might Also Like:

Tambahkan Komentar

Disqus Comments