Halo !!! Nama Saya Wahid Priyono, S.Pd, ini adalah blog pribadi saya tentang pendidikan dan pengajaran di sekolah

Tips Cara Membuat Herbarium Kering dan Herbarium Basah Secara Baik dan Benar Sesuai Prosedur

Garis besar ketentuan-ketentuan untuk mengumpulkan data adalah pengambilan sampel dan pengukuran. Pengambilan sampel biasanya dilakukan di lapangan. Sebelumnya peneliti harus mempunyai tujuan yang jelas mengenai apa yang diinginkan hingga dapat menyelesaikan dengan baik. Pertanyaan yang harus dijawab sebelum pengambilan sampel adalah: bagian mana dari tumbuhan yang akan diambil sampelnya, berapa banyak pengambilan sampel tersebut, dan teknik/cara/metode apa yang digunakan untuk mengumpulkan tumbuhan.

Studi taksonomi tumbuhan harus didasarkan pada bahan yang riil/specimen. Suatu specimen dapat berupa tubuh tumbuhan yang lengkap, yang terdiri dari bagain vegetatif (akar, batang+cabang, daun), dan bagian-bagian generatif (bunga dan buah) untuk tumbuhan spermatophyta, atau dapat pula bagian vegetatif dan generatif tumbuhan spora (cryptogamae). Specimen yang digunakan untuk studi taksonomi dapat berupa bahan tumbuhan segar yang masih hidup, atau bahan tumbuhan yang telah diawetkan (herbarium).

Cara pengumpulan bahan tumbuhan untuk studi taksonomi diperlukan berbagai peralatan diantaranya adalah :
1.      Gunting atau pisau pangkas, untuk mengambil bahan tumbuhan yang diperlukan
2.      Tromol botani, kaleng Schweinfurth atau wadah lain untuk mewadahi bahan tumbuhan yang diperlukan.
3.      Kertas Koran bekas atau kertas lain yang mempunyai kemampuan untuk menyerap lengas.
4.      Alat pengepres, tumbuhan yang sudah disiapkan untuk dipres dengan kertas – kertas pelapisnya ditempatkan diantara dua ancak lalu diikat dengan tali menyilang.
5.      Alkohol-absolut atau kandungan etanol yang sangat tinggi
6.      Selotip, untuk menyegel kaleng Schweinfurth agar alkoholnya tidak habis menguap yang digunakan untuk menandai masing – masing specimen.
7.      Teropong binokuler, untuk melihat dari jarak jauh misalnya untuk mengamati alat – alat reproduksi pada tumbuhan – tumbuhan yang tinggi besar.

Dilihat dari segi jarak dan waktu untuk mencapai tempat yang dituju untuk mendapatkan bahan herbarium baru dibedakan dalam dua macam :
1.      Tempatnya relatif dekat yang tidak memerlukan waktu lama sehingga pemrosesan bahan untuk pengawetan dapat dilakukan ditempat kerja atau lembaga penelitian taksonomi.
2.      Koleksi ditempat yang jauh, biasanya suatu perjalanan ekspedisi khusus untuk pengadaan specimen dalam ranggka studi taksonomi baik yang dilakukan diwilayah dalam negeri sendiri maupun di luar.

Teknik pembuatan herbarium kering sebagai berikut :
2        Specimen terlebih dahulu dikeringkan dengan meletakkannya diatas lembaran kertas yang cukup tebal berukuran kira – kira 28,5 cm x 41 cm kemudian dilanjutkan dengan pengepresan.
3        Bahan tadi dipres antara kertas dengan menggunakan bilah bambu atau kayu – kayu .
4        Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari bila cuaca cerah.  Sedangkan bila cuaca tidak menguntungkan, sumber panas api dari pembakaran arang atau kayu bakar.  Pengeringan yang paling aman adalah dengan alat pengering yang dilengkapi dengan thermostat yang suhunya dapat diatur.
5        Herbarium yang telah kering ditempel pada kertas tebal dengan ukuran tertentu.  Penempelan dapat menggunakan lem perekat diseluruh bahan permukaan atau dengan selotip yang direkatkan, asal cukup menahan bahan jangan sampai terlepas.
6        Bahan tumbuhan dari golongtan lumut biasanya setelah dikeringkan lalu dimasukkan kedalam amplop dengan ukuran tertentu, kemudian ditata dalam sebuah laci seperti dalam penyimpanan arsip.
7        Bahan – bahan dari golongan jamur yang dikoleksi adalah tubuh buahnya, sehingga dikeringkan begitu saja tanpa pengepresan, setelah kering disimpandalam kardus atau karton atau disimpan sebagai herbarium basah.
8        Pemasangan etiket atau label yang berisi informasi yang diperoleh dari tumbuhan yang telah dikeringkan.  Etiket memuat judul dan nama lembaga yang memilikinya, selain itu memuat data – data : nomor urut, nama kolektor, data taksonomi, nama jenis,tempat pengambilan bahan, habitat, data ekologi jika perlu, data lain yang dianggap perlu dicatat seperti kegunaan dalam tradisi setempat.

9        Koleksi yang telah diawetkan disimpan dalam wadah atau kotak dari kaleng yang ditempatkan di rak – rak atau lemari kabinet tahan api.  Bagian tumbuhan yang ukurannya besar diletakkan begitu saja dalam keadaan utuh di rak atau meja yang telah diberi etiket.

Pemrosesan untuk menjadikan koleksi awetan sebagai herbarium basah sebagai berikut:

1.      Spesimen yang telah diawetkan disimpan dalam suatu larutan yang dibuat dari berbagai macam zat dengan komposisi yang berbeda-beda (misalnya : alcohol dan formalin). Penggunaan alcohol akan selalu berakibat hilangnya warna asli tumbuhan, sedangkan formalin bersifat mengeraskan jaringan tumbuhan namun tidak terlalu besar daya larutnya terhadap warna-warna yang terdapat pada tumbuhan.

2.      Spesimen diletakkan dalam bejana-bejana transparan dan tahan pengaruh kemikalia, diberi tutup rapat kedap udara dan air. Pada wadah itu juga ditempel label atau etiket yang memuat informasi seperti yang dibuat terhadap herbarium kering.

3.      Bahan tumbuhan yang sering dijadikan herbarium basah adalah: bahan-bahan yang ukurannya kecil sehingga jika dikeringkan mudah terlepas dan jika dipres akan kehilangan ciri-cirinya; bahan tumbuhan dari jenis tumbuhan yang hidup di air atau yang mempunyai kadar air tinggi seperti ganggang dan jamur.

Pada dasarnya semua bahan tumbuhan dapat dijadikan herbarium basah namun hal itu tidak dilakukan karena hal-hal berikut:


1.        Biaya pembuatan yang terlalu tinggi seperti untuk larutan pengawet dan wadah yang digunakan
2.  Memerlukan tempat untuk meletakkan spesimen-spesimen yang kokoh atau ruang untuk penyimpanan yang lebih luas
3.   Penanganan harus secara lebih hati-hati untuk menghindari pecdahnya wadah dan tumpahnya larutan pengawet.

Perlakuan Khusus untuk Mencegah Serangga dan Jamur

Bahan-bahan tumbuhan yang telah diawetkan melalui pengeringan sebelum atau sesudah ditempel pada kertas herbarium atau dimasukkan dalam amplop atau wadah lain untuk disimpan, biasanya mendapatkan perlakuan tambahan untuk bertujuan mencegah gangguan serangga dan jamur selama disimpan. Dahulu, dalam lemari atau wadah simpanan herbarium lazim diberikan naftalin atau kamper,atau dilakukan fumigasi dengan menggunakan gas sianida, paradiklor benzen,campuran diklorit etilen dengan tetra klorit karbon,DDT atau CS2. Perlakuan ini dapat diulang setelah waktu yang cukup lama. Sekarang,dalam rangka pencegahan gangguan serangga dan jamur,bahan tumbuhan yang telah dikeringkan terlebih dahulu dicelupkan kedalam larutan sublimat (HgCl) yang jenuh, baru setelah menjadi kering kembali ditempel atau ditempatkan dalam wadah untuk disimpan.

SUMBER REFERENSI:

Hasnunidah, Neni. 2009. Botani Tumbuhan Rendah. Bandarlampung: FKIP Universitas Lampung.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1991. Taksonomi Umum. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Ariyanti, Esti E. 2008. Herbarium. Diunduh pada 13 Desember 2016, pkl. 05.22 WIB, pada situs website: http://www.krpurwodadi.lipi.go.id/herbarium.php.

You Might Also Like:

Tambahkan Komentar

Disqus Comments